Apakah hanya sebuah penghargaan?

Beberapa hari ini saya terus berkomunikasi dengan orang-orang yang sedang bermasalah dalam rumah tangganya. Ini sungguh menjadi cobaan buat saya yang belum menikah padahal sebelumnya keinginan untuk berummah tangga menjadi prioritas utama tahun ini. Pernikahan adalah suatu hubungan yang menakjubkan dimana dua insan dengan karakter berbeda dapat hidup bersama. Tentu sangat dibutuhkan pemahaman yang tinggi terhadap pasangan masing-masing dan ini bisa jadi masalah besar jika keduanya tidak bisa memahami pasangannnya.

Terkadang saya mendengar para orang tuaa mengatakan bahwa pernikahan yang lahir dari putusan keluarga lebih bahagia dari pada pernikahan yang lahir karena cinta kedua belah pihak. Dan ada juga yang berpikir sebaliknya. Orang-orang yang saya temui akhir-akhir ini merupakan  pasangan yang lahir karena cinta dan satu lahir karena permintaan keluarga. Keduanya pada dasarnya memiliki masalah yang sama yaitu perbedaan karakter dan prinsip yang membuat keseharian mereka diliputi pertentangan dan pertengkaran. Saya kemudian menyimpulkan bahwa bukan masalah bagaimana mereka awalanya bisa menikah tetapi bagaimana mereka membangun penghargaan terhadapa pasangan ketika berumah tangga. Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah gadis cantik penjual obat

Kisah ini adalah kisah nyata yang menceritakan tentang seorang gadis cantik yang kerjanya menjuat obat. Sebenarnya gadis ini adalah salah satu teman dekat saya sejak masih duduk dibangku kuliah strata 1 sedangkan gadis ini sudah melalui beberapa pekerjaan.
Sebenarnya gadis ini berasal dari keluarga yang mapan tetapi hanya dialah satu-satunya dalam keluarganya yang terlantar tidak punya pekerjaan selayaknya saudaranya yang lain. Orang tuanya waktu itu masih lengkap dan memiliki tanah dan perkebunan yang luas. Saya juga pernah bertemu dengan salah satu kakaknya yang waktu itu datang dengan mobil mewah bersama keluarganya.
Dalam pandangan saya bahwa keluarga mereka adalah keluarga mapan karena saya sendiri berasal dari keluarga sederhana. Yang membuat saya heran adalah, gadis tersebut tinggal bersama dengan kami dalam satu rumah kos yang sangat sederhana dan makan pun sangat sederhana. Bahkan pernah gadis ini tidak punya uang untuk makan sehingga saya harus meminjamkannya uang. Kemana keluarganya? Pertanyaan itu yang selalu keluar dari dalam hatiku tetapi agak sulit untu kutanyakan langsung kepadanya. Seiring waktu berlalu saya mulai dekat dengan dia dan saya juga sering menceritakan perihal kehidupan dan masalah saya. Curhat begitu.
Gadis itu mulai terbuka dan bercerita bagaimana saudaranya hanya menjadikannya pembantu di rumah, menjaga ana-anak mereka dan tidak membrinya ksempatan untuk bekerja mencari uang seperti keluarga lainnya. Untuk acara keluarga pun ia tidak pernah diikutsertakan dan hanya tinggal di rumah untuk beres-beres rumah. Saya bisa katakan pembantu lebih baik karena mereka digaji sementara teman saya ini tidak diberi uang sama sekali. Hanya satu kelebihannya adalah makan gratis. Bahkan ibunya pun mendukung perilaku kakak-kakaknya dan tidak pernah menanggapi keinginan putrinya, yaitu si gadis tadi.
Alhasil gadis ini berngkat ke kota dan mencoba mencari peruntungan. Bertahun-tahun ia di kota tanpa saudara bekerja dan akhirnya menjual obat dan kemudian bertemu saya. Seringkali ia mengeluh mengapa saudaranya punya kehidupan yang layak padahal mereka bukan orang yang murah hati sedangkan hidup saya stagnan di sini. Saya katakan “Sabar saja karena Insya Allah tidak ada sesuatu yang sia-sia saja dan ingat bahwa roda itu berputar. Terkadang kita akan berada di bawah tetapi terus berusaha karena suatu saat kita akan berada di puncaknya”. Waktu itu saya ingat saya menyarankannya untuk bersedekah sebagai DP untuk kehidupan yang lebih baik. SI gadis ini pun menjual gelang emas miliknya dan diperolehnya uang sebesar 1 juta rupiah. Karena tterdesak oleh kebutuhan diambilnya 300 ribu untuk keperluannya dan 700 ribu ia sumbangkan ke panti asuhan dna berdoa agar ia mendapat pekerjaan dan uang yang cukup.
Satu tahun berlalu, ia menelpon saya. Saat itu saya sudah ada di Surabaya untuk melanjutkan studi S2. Ia bertanya “mengapa saya belum mendapatkan apa yang saya inginkan setelah menyumbang uang itu”. Saya jawab “ Sabar dan tetap berdoa kepada Allah”. Waktu itu temannya waktu kuliah juga sudah menertawakannya karena mengharap kehidupan lebih baik dengan menyumbangkan uangnya.
Satu tahun kemudian gadis ini kembali menelponku dan dari nada bicaranya saya menangkap suatu kebahagiaan. Ia mendapatkan uang warisannya yang selama ini di tahan oleh kakak-kakanya sebesar 100 juta tetapi 20 juta dia gunakan untuk metupi sangkutan almarhum ayahnya. DP yang diberikannya berlipat100 kali dan temannya pun terheran-heran atas kebesaran janji Allah.
Ceritanya tidak sampai disitu. Pada saat yang sama, suammi dari kakaknya jatuh sakit di vonis kanker stadium. Segala macam obat termahal sudah digunakannya termassuk rumah sakit termahal di Makassar. Obatnya di beli langsung dari Amerika. Tentunya biayanya tidak sedikit sementara anak-anaknya terlantar di rumah karena ibu dan ayahnya di rumah sakit. Teman saya, si gadis tadi tetap berbaik hati mengurus anak-anaknya di rumah ia menemui kakaknya dan menyampaikan bahwa ia siap membantu biaya rumah sakit suaminya. Si kakak menangis dan tidak menyangka adik yang selama ini diabaikannya berkata demikian.
Kisah tersebut mengajarkan banyak hal diantaranya
 Tanamlah energi positif karena balasnnya akan sangat indah
 Tetaplah berbuat baik kepada orang yang menyakiti Anda karena bisa jadi itu menjadi jalannya untuk bertobat
 Berbuat baiklah pada siapa saja karena bisa jadi orang yang pernah Anda tolong kelak menjadi penolong Anda

PhyMotivaor

Sitti Rahma Yunus

Perjuangan Belum Berakhir

Cukup lama saya tidak menulis di blog ini karena sibuk mempersiapkan ujian Tes Kompetensi Bidang (TKB). Oh iya teman-teman saya melanjutkan carita saya tentang penerimaan CPNS pada tulisan sebelumnya. Alhamdulillah saya lulus Tes Kompetensi Dasar (TKD) yang berarti nilai saya memenuhi batas passing grade yang ditetapkan pemerintah. Dari peserta 5 orang yang mengikuti TKD untuk calon dosen Prodi Pendidikan IPA dibawah naungan Fakultas MIPA UNM ada 2 orang yang lulus dan alhamdulillah saya salah satu diantaranya.
Perjuangan belum berakhir dan babak baru untuk satu lawan satu baru dimulai. Rival saya kali ini adalah junior saya waktu menempuh S1. Semua memang harus dipersiapkan dengan matang dan saya yakin rival saya juga demikian. Saya tidak akan dan tidak pernah memandang remeh lawan (tapi kami tetap berteman di luar masalah ini ya) karena masing-masing dari kami punya peluang 50 50. Optimalkan potensi dan kemampuan adalah hal yang kami mesti lakukan dan tentunya bedoa kepada Sang Khalik.
Kami bertarung dalam 3 tes yang berlangsung selama 2 hari. Hari pertama begitu melelahkan karena kami harus menjalani 2 tes yaitu tes tertulis mengenai materi (FISIKA, BIOLOGI, dan KIMIA) dan selanjutnya tes Mengajar. Sungguh tes materi ini cukup membuat kepalaku sakit karena banyaknya memori materi yang sudah terhapus di kepalaku. Tes mengajar alhamdulillah lancar. Hari kedua adalah tes wawancara dan tes ini pun berlangsung aman dan terkendali.
Saya berusaha melakukan yang terbaik dan hasilnya saya serahkan kepada Allah, Maha Pemberi Rezeki.

PhyMotivator
Sitti Rahma Yunus