New living, New Spirit

Ramadhan has come and I have decided to say welcome to new house. for many days, my sister told to move but I was still enjoying my self in small domitory near campus UNHAS. Every day I went to campus UNM to give lecturing. Long distance for traveling every day And planning to move to anothher place but still near campus UNHAS make me feel all same. Nothing different with place before.
But then, I rethink everything I finally make deision to move at first day of ramadhan.. This is new house, new live, and new spirit. I ente the house and say salam. Around three times, I go forward from old to new house. Feel tired as new things must be set. I have to make my self feel comfort in this new house.
Looking at ll side of room. Many books put in board. Economic books, yes most of them are economic books. The owner is lecturer of ecoonomis faculty of UNHAS. He hass completed hissDoctor at Indonesia University, a famous University in Indonesia. My dream growing again, pursue higher eduction in Aussie. Hello My dream will you pickk me up. Amin…

Iklan

Pantaskan saya

Memberikan sebuah penilaian akhir dalam suatu mata kuliah menjadi hal yang membuat dadaku deg-degan. Memang, adalah hak kita sebagai dosen memberikan nilai tanpa intervensi atau paksaan dari atasan. Mungkin agak berbeda dengan nilai kelulusan dari siswa yang ditentukan oleh pusat sehingga terkadang ada sekolah yang bahkan melibatkan gurunya agar nilai siswa-siswa itu bagus. Alasannya adalah kalau nilainya jelek sehingga banyak anak yang tidak lulus maka, sekolah ini atau kepala sekolahnya akan mendapat amarah dari atasanya. Hal seperti demikian tidak kita alami di kalangan dosen.
Waktu saya masih berstatus mahasiswa, saya pernah merasakan hasil penilaian tidak adil dari seorang dosen yang mengaku jujur, adil, dan disiplin. Awalnya saya sangat kagum dengan dosen itu, tetapi semua kekaguman itu sirna dalam sehari. Pada akhirnya, dosen itu memberikan saya nilai c bersama teman-teman saya yang notabennya jawara kampus. sementara nilai A diberikan untuk anaknya dan teman-temannya yang hanya pandai bersolek dan menyontek saat ujian. Ketika kami tanyakan penilaiannya darimana tak ada satupun info yang kami dapatkan dan mereka hanya saling melemparkan kesalahan. Kebetulan dosen pengampuhnya ada dua, bapak teman saya dan satunya dosen perempuan. Mereka berdua tidak ada yang mengaku. Lantas siapa? kami kemudian berkesimpulan bahwa nilai itu adalah hasil dari teman saya, anak bapak itu. Pantas nilai mereka A. Nilai hantu yang tidak tahu asal usulnya. Ini yang membuat saya sangat hati-hati dalam membuat penilaian dan se transparan mungkin.
Hari ini pun demikian, saya bulat hati melingkari deretan a b c d e dalam lembar penilaian mahasiswa. nilai tugas, kuis, Mid, dan final lengkap saya cantumkan dan semua jawaban yang saya periksa juga sudah kembali. Tetapi masih ada yang keberatan dengan nilainya karena ada salah satu temannya yang mendapat tambahan nilai. Mereka tidak sadar bahwa tambahan nilai itu adalah karena ada jawaban benar yang saya salahkan dan ketika anak itu membawa lembar jawabannya kemudian saya tambah nilainya sesuai jumlah benarnya. Sama sekali bukan karena anak itu merajuk.
Protes karena nilai C padahal sebenarnya nilainya itu seharusnya D, hanya saya tambah skornya agar mereka semua lulus. Tetapi adakah mereka berpikir “pantaskah saya mendapat nilai B atau A dengan kemampuan pas-pasan? Mengapa protes dengan nilai C yang seharusnya D bahkan E.

PhyMotivator
Sitti Rahma Yunus

Nasib Dosen Kecil di Suatu Sore

Menjelang sore hari ketika matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, saya meninggalkan kampus Parang   Tambung menuju kampus Gunung Sari. Kampus UNM memang terdiri dari beberapa wilayah dan pusat pengurusan akademik dan gedung rektorat ada di Gedung Pinisi Gunung Sari. Sore ini seluruh calon pengawas untuk SBMPTN 2014 akan menghadiri sosialisasi mengenai tata cara pengawasan. Semua pengawas adalah pegawai negeri di lingkungan kemendikbud. Kebetulan  saya yang masih sangat junior juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi.

Saya sudah beberapa kali berkunjung ke gedung tertinggi di Sul-Sel. Gedung Pinisi yang menjadi kebanggaan civitas UNM bahkan di pajang di buku walikota yang berjudul Makassar menjadi kota dunia. Tetapi meski saya sudah sering kali datang, tak sekalipun saya memarkir sepeda motor di Base. Dan ini kali pertama saya memasuki ruang bawah tanah gedung itu. Sesuai instruksi dari mahasiswa, saya setelah meluncur ke bawah gedung, saya langsung belok ke kanan  dan mengikuti tanda panah untuk parkir kendaraan bermotor. Di bagian kiri jalan keluar terdapat tanda dengan tulisan parkir untuk pegawai dan dosen. Saya arahkan sepeda motor saya ke tanda tersebut. Tiba-tiba seorang satpam menahan sepeda motor saya dan menunjuk ke papan tanda. Saya berhenti. “Ini untuk pegawai dan dosen” kata satpam itu. “iya pak” jawab saya. Dalam hati berbisik “saya juga bisa baca pak, justru itu saya ke arah sini”. ” Kita pegawai” lanjut pak satpam itu dengan aksen Makassar. “Bukan, saya dosen”. Jawabku lantang. Serta merta Satpam itu memberi saya jalan dan terlihat wajahnya sedikit  tertunduk. Nasib jadi dosen kecil, wajah masih imut. Hmmm Narziss. Baca lebih lanjut

Sebelum Menginspirasi

Bulan Juni diawali dengan penantian saya akan keputusan relawan Kelas Inspirasi. Akhir Mei bulan lalu saya mendapat informasi bahwa akan ada kelas inspirasi yang terbuka di dua kota di Sulawesi Barat pada tanggal 9 Juni 2014. Saya tidak tahu menahu mengenai Kelas Inspirasi atau KI itu apa dan itu kali pertama saya mendengarnya. Akhirnya saya mulai mengorek informasi lewat “mbah” google dan youtube mengenai KI dan berhasil. Semua informasi mengenai latar belakang KI dan tujuan kegiatan ini saya dapatkan. Sebuah kegiatan pelebaran sayap dari gerakan indonesia mengajar. Kegiatan-kegiatan yang menginspirasi anak-anak dan membangun motivasi mereka agar tumbuh menjadi manusia yang memiliki tujuan hidup yang jelas dan terarah.
Dengan penuh percaya diri saya mulai mengklik menu pendaftaran pada web kelasinspirasi.org dan memilih kabupaten Polewali Mandar sebagai tempat saya nantinya menjadi relawan. Adik saya Uni yang baru pulang dari klinik dengan sangat kepo mencari tahu apa yang saya lakukan. Saya hanya menjelaskan sekilas tentang KI dan ia langsung menyatakan mau ikut mendaftar jadi relawan. Malam itu kami bersama mendaftar menjadi relawan dan berharap penuh kami bisa terlibat dalam kegiatan meski harus cuti kerja.
Tiga hari sebelum tanggal 6 Juni 2014, penetapan relawan yang terpilih, Uni dihubungi oleh pihak panitia via telepon bahwa ia lulus menjadi relawan. “koq bisa” kata saya waktu itu. Penentuannya lebih cepat dari jadwal sehingga membuat saya harus mengecek email lebih awal. Tetapi tidak ada email yang masuk. Kecewa? Iya. Sejarah saya lebih dahulu mendaftar tapi saya yang belum dapat konfirmasi. Esok hari saya mencoba membuka email lagi kali aja sudah ada email KI yang terdampar di sana tetapi nihil. Saya mulai menerima kegiatan lain di sekitar tanggal pelaksanaan karena sebelumnya saya sengaja mengosongkan jadwal.
Tanggal 6 Juni malam saya mencoba membuka email lagi dan akhirnya “tedeng” ada juga pengumumannya. Ada undangan briefing tanggal 8 juni, sehari sebelum hari H. Namun masih ada saja yang memunculkan keraguan saya. Nama yang dikirim ke email saya sebagai tanda terima sebagai relawan itu bukan nama saya.Riahna Br Kembaren. What??? Sejak kapan saya ganti nama? Waduh apa benar ini undangan buat saya? Berbagai pertanyaan muncul dalam benak saya tetapi kemudian saya membulatkan tekad untuk pergi meski nantinya buka nama saya.
Saya sengaja tidak memberi tahu Uni kalau saya sudah mendapatkan email pemberitahuan. Ia berpikir bahwa saya tidak akan ikut berpartisipasi di kelas KI karena mengetahui saya juga punya jadwal lain pada tanggal itu. Saya sedikit menjahilinya dengan tidak memberitahu bahwa kami akan berangkat bareng.
Sehari sebelum berangkat ke Polewali, Uni pergi mendaki gunung padahal esok malam kami harus berangkat sekitar jam 10 mala. Magrib saya tiba di kos lepas dari urusan kampus lalu menunggu kedatangan adik saya itu. Jam 8 berlalu tetapi belum ada kabar darinya, entah di daerah mana, masih di gunung atau sudah masuk pemukiman. Jam 9 smsnya uncul dan mengatakan Insya Allah jam 10 ia akan tiba di kos. Setelah itu saya langsung menelpon mobil untuk menjemput kami jam 10.
Saya mulai panik ketika 5 menit kurang dari jam 10 anak itu belum ada batang hidungnya. Supir mobil juga sudah mulai menelpon menanyakan apakah adik saya sudah tiba atau belum dan tentu saya jawab belum. 5 menit, 10 menit berlalu dari jam 10. Hmmm cemas sudah. Untungnya supir jemputan kami mengatakan bahwa ia masih menjemput di daerah Pettarani sehingga sensasi panik saya berkurang. Tepat 10.20 anak itu muncul dengan pakaiannya yang kotor dan basah.
Akhirnya ….
To be Continued for Inspiring day

Sitti Rahma Yunus
PhyMotivator

Mewah tapi Kosong

Deretan kursi yang masih terbalut plastik terlihat kosong. Sebuah ironi ketika kesan mewah dan murah yang selalu menjadi incaran masyarakat kita, tampaknya tidak berlaku untuk calon penumpang bus Makassar. Angkutan massal yang diharapkan dapat mengurangi  kemacetan dan mempermudah akses masyarakat ternyata belum banyak diminati.

Siang hari saya sempatkan diri untuk mengalami sendiri  sensasi menggunakan bus milik DInas Perhubungan kota Makassar.Waktu itu saya bersama adik saya haus akan pengalaman baru yang mungkin sebagian besar masyarakat kota ini belum menjajakinya. Ya, bus baru yang menjadi ujicoba angkutan massal di kota Daeng ini. Saya parkir sepeda motor saya tepat di seberang jalan Mall panakkukang tempat bus koridor 2 ini menunggu penumpang yang masih bisa dihitung jari. Baca lebih lanjut