5 A

Hari ini tanggal 13 agustus 2014, UNM merayakan dies natalis setelah 53 tahun berdiri. Ini kali pertama saya mengikuti acara istimewa almamater yang dihadiri tamu undangan istimewa. Gubernur Sulawesi Selatan Pak Syahrul Yasin Limpo juga menyempatkan waktu disela-sela kesibukan beliau sebagai orang nomor satu di provinsi Sul-Sel. Wakil wali kota Makassar juga hadir.Seluruh jajaran petinggi kampus orange juga hadir lengkap dengan baju kebesaran, jubah dan toga.
Terdapat banyak acara yang berkesan di hati dan memuaskan visual saya. Team paduan suara sekaligus penari memberikan suguhan yang memuaskan. Pidato rektor Prof.Dr.Aris Munandar banyak memberikan fakta perkembangan UNM sebagai kapal yang sedang terkembang. Banyak prestasi yang terukir utamanya dalam bidang wirausaha. Para mahasiswa dikirim ke luar negeri untuk belajar mengembangkan usaha sehingga akhirnya menjadi pengusaha muda dengan omset ratusan juta. Ini adalah hal baru buat saya dan menjadi cita-cita saya untuk bisa mengantarkan mahasiswa untuk berani berwirausaha sehingga tidak menggantungkan hidup pada orang tua dan hanya berharap menjadi PNS.
Hal yang paling menarik buat saya hari itu adalah orasi ilmiah Prof.Dr. Hafid Abbas. Beliau adalah ketua KOMNAS HAM Indonesia dan asean yang berkantor di Bangkok. Anak Sulawesi yang menyabet 3 ijazah di UNM dengan 3 rektor yang berbeda. Bahasa dan logatnya sangat terpengaruh oleh bahasa asing, Seperti pak Habibie. Penyampaiannya begitu runut dan semua oranag yang hadir saya yakin paham dan terkesima melihat dan mendengar orasi ilmiah beliau. “Jangan pernah ada seorang anak Indonesia yang tertinggal” adalah judul orasi tersebut. dari judulnya sudah tampat bagaimana kita harus menyamaratakan pendidikan untuk semua anak Indonesia. “No child left behind seperti kata Presiden Amerika Barack Obama. Dalam orasi terssebut, Prof Hafid Abbas menyajikan pertama kali diagnosa penyakit pendidikan di Indonesia sehingga kualitas pendidikan kita berada di bawah rata-rata. Kemudian beliau menawarkan solusi dengan pembenahan 5 aspek pendidikan yang dikenal 5 A yaitu availability, accessibility, acceptability, adaptability, dan assessibility. Semoga ke depan negara ini menjadi negara yang besar yang melindungi hak-hak setipp warga negaranya tanpa terkecuali. Amin

Sitti Rahma Yunus
PhyMotivator

Iklan

Kemenangan

Ramadhan baru saja berlalu. Tepat satu minggu yang lalu kita umat islam merayakan hari kemenangan setelah satu bulan penuh berlomba beribadah untuk mencapai predikat takwa. Di bulan inilah saya dapati keimanan saya yang masih sangat dangkal. Nasehat yang sering saya ucapkan ke teman-teman yang sengaja curhat mengenai keadaan ekonomi mereka, ternyata akhirnya saya yang harus merasakannya kembali.
Sudah beberapa bulan ini saya mengabdikan diri sebagai pegawai pemerintah dengan suka rela karena gaji belum dibayarkkan. Saya juga sudah berhenti memberikan les bahasa inggris untuk anak-anak SD sehingga secara otomatis penghasilan saya terhenti. Meski masih terdapat bros-bros buah tangan yang laku di pasaran tetapi hanya cukup untuk membeli bensin motor pinjaman. Jika saya pikir-pikir bulan puasa kali ini adalah puasa termiskin ketika orang lain menganggap saya sangat bahagia karena lulus CPNS. Sebuah ironi yang membuat saya sadar betapa kita manusia itu terbatas.
Di bulan ini juga saya nyaris tidak pulang ke kampung halaman. Adik-adik saya yang lain sudah mempersiapkan dana untuk pulang kampung sementara uang saya habis untuk hidup 4 bocah yang bersama saya saat itu. Saya katakan bahwa saya tidak punya uang untuk pulang. Tetapi adik-adik saya itu tetap memesan mobil pulang kampung untuk 5 orang dan itu berarti saya juga mesti pulang.
Satu jam sebelum mobil pesanan datang. Adik saya yang nomor tiga datang membawa beberapa lembar uang merah dan biru. Dia kibas-kibaskan uang itu di depan saya dan berkata kita pulang. Lebaran akhirnya bersama ibu dan keluarga.

PhyMotivator
Sitti Rahma Yunus