Hadiah Ulang tahun

Jika membaca judul dari tulisan ini mungkin beberapa pembaca akan menebak bahwa ulang tahun saya hari ini. Ulang tahun saya bukan hari ini tapi bulan kemarin dan banyak alasan kenapa tulisan ini baru muncul sekarang.

Saya sangat ingin menulis cerita rentetan peristiwa yang mengawali ulang tahun saya yang sudah tidak muda lagi. Ulang tahun kali ini membuat saya jauh lebih bersemangat karena bertepatan dengan perayaan Idul fitri bagi seluruh umat muslim di dunia. Ya tanggal 17 Juli 2015. Tidak terasa saya sudah berada pada usia akhir untuk menempelkan angka 2 di depan usia saya. Tapi kerisauan itu tertutupi dengan perayaan yang menyertainya. Rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata ketika semua orang khususnya umat muslim berbahagia di hari ulang tahun kita meskipun kebahagiaan itu tidak ditujukan untuk kita. Tentu kebahagiaan masih bisa merayakan hari raya kemenangan. Waktu itu sempat deg degan kalau saja hari raya akan berlangsung tanggal 18 bulan 17 tetapi optimis dalam hati saya menginginkan hari jumat itu. Hari baik, hari kemenangan, dan hari ulang tahun saya.

Seperti hari raya sebelumnya, saya dan keluarga melaksanakan salat IED dan bermaaf-maafan. Ada yang lucu dengan mengenai hadiah ulang tahun. Adik saya Uni tiba-tiba datang dan menyampaikan begini “Jangan menertawakan hadiah saya ya, kalau kamu tertawa saya akan marah”. Saya bingung, gimana mau tertawa melihat bendanya saja belum. Ok. jawab saya singkat.

Uni kemudian datang dengan sebuah hadiah terbungkus kertas kado berwarna biru. Penasaran juga apa isinya. saya tidak langsung membukanya tetapi kemudian anak itu memaksa. Saya buka dan wajah dua ekor kucing terpampang di mataku. Bukan kucing beneran tetapi gambar kucing pada sebuah tas berwarna merah. Saya jadi ingat Lala kucing peliharaan kami yang saat ini ada di Makassar. Miss you Lala. Saya senang dengan gambar kucing itu. Cukup mengobati kerinduanku pada Lala si putih.

Itu hadiah sederhana tetapi berarti bagi saya. Sebenarnya ada hadiah yang diberikan Allah saat itu. Malamnya saya diserang penyakit cacar. Penyakit koq hadiah? Mungkin beberapa teman-teman pembaca menganggap itu aneh. Banyak hal yang saya dapat selama saya sakit. Tuhan mungkin menyuruh saya untuk istirahat dan bersua dengan keluarga. Saya melihat sosok ibu yang begitu setia menemani anak-anaknya meski tahu itu penyakit menular. Memang benar kasih ibu tak terhingga tetapi kita selalu saja tidak pernah menyadarinya.

Sakit cacar. Ini kali pertama dalam hidup saya. Sebuah hadiah yang mengajarkan saya untuk selalu bersyukur atas nikmat kesehatan. Saya sebelumnya jarang bersyukur memiliki kulit wajah yang normal dan sangat jarang berjerawat. Saya selalu berpikir untuk mendapatkan wajah yang rupawan mulus seperti orang cantik lainnya. Itu menurut saya. Tetapi dengan bekas hitam hasil cacar yang memenuhi wajah saya membuat saya sadar bahwa selama ini saya selalu lalai dalam mensyukuri nikmat Allah. Bagi saya ini kado terindah yang diberikan Allah buat saya.

Kita tidak akan dapat menghitung nikmat yang diberikan Allah kepada kita, dan sangat sering kita menghitung perbuatan baik yang sudah kita lakukan.

 

Sitti Rahma Yunus

(PhyMotivator)

Iklan